Menjaga Jejak Suci, Merawat Warisan Bumi

Tompak, di mana nilai kehidupan bertemu dalam satu jejak, menjadikan Dusun ini sebagai titik bertemunya keimanan, alam, dan sejarah yang akan selalu hidup setiap waktu.

Di tanah yang subur ini, sejarah dan kehidupan tumbuh berseri

Seperti Watu Tompak yang tidak bisa dijauhkan dari tempatnya, ada tempat-tempat yang tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Tempat yang terus hidup dalam ingatan, sejarah, dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tompak adalah salah satunya, sebuah dusun yang mengajarkan bahwa kembali bukan hanya pulang, melainkan juga mengenang asal, menjaga warisan, dan mengembangkan potensi yang ada. Di sinilah nilai kehidupan bertemu dalam satu jejak, menjadikan Tompak sebagai titik temu keimanan, alam, dan sejarah yang akan selalu hidup setiap waktu.

Berada di sekitar Perbukitan Menoreh, Tompak berdiri di tanah yang subur, udara yang sejuk, dan dikelilingi kelestarian alam melimpah yang menjadi sumber penghidupan dan terus dijaga oleh masyarakatnya. Dari mata air yang menghidupi hingga hamparan perkebunan yang menguatkan perekonomian, alam telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kehidupan yang tumbuh berdampingan dengan alam inilah yang membentuk karakter masyarakat Tompak.

◉

73.93 Ha

Luas Dusun

◉

2 RW

Jumlah RW

◉

5 RT

Jumlah RT

◉

±90 Kartu Keluarga

Jumlah KK

Jejak Sejarah Dusun Tompak: Asal Usul Nama dan Kisah Watu Tompak

Asal Usul Nama Tompak 1

Asal Usul Nama Tompak

Nama "Tompak" sendiri berakar dari kata "Tumpak" atau "Tumpang", yang menggambarkan dua bongkahan Watu Tompak yang saling bertumpuk. Setiap huruf dari "Tompak" juga memiliki maknanya tersendiri: T = Trengginas, O = Obah, M = Makaryo, P = Pakarti, A = Amrih, K = Kecukupan — yang secara garis besar bermakna semangat untuk terus bergerak, bekerja, dan berbuat baik hingga berkecukupan.

Seiring bertambahnya waktu, penduduk di sekitar Watu Tompak semakin bertambah, sehingga masyarakat pun mengangkat salah satu penduduk menjadi pemimpin pertama mereka, yaitu Ki Joyodiharjo. Wilayah ini kemudian dikenal sebagai Dusun Tumpak. Nama tersebut baru resmi dipatenkan menjadi "Tompak" pada tahun 1992 oleh Pak Besut, seorang tokoh Budayawan Jogja, setelah desa ini memenangkan lomba tingkat provinsi pada saat itu. Momen inilah yang menandai pergantian nama secara resmi dari Dusun Tumpak menjadi Tompak, seperti yang dikenal hingga sekarang.

KOMODITAS TOMPAK

Tiga komoditas utama yang tumbuh subur di tanah Tompak:

Kakao
01

Kakao

Ditanam di tanah Menoreh yang subur, kakao Tompak menghasilkan biji cokelat berkualitas dan cita rasa yang khas.

Tanaman Rimpang
02

Tanaman Rimpang

Kekayaan alam berupa lengkuas, jahe, kencur, temulawak, dan kunyit ini tumbuh melimpah di tanah Tompak dan lebih akrab disebut sebagai empon-empon oleh masyarakatnya.

Pisang
03

Pisang

Tumbuh subur di kebun-kebun warga, pisang menjadi hasil kebun andalan yang dimanfaatkan sebagai pangan sekaligus sumber penghidupan para warga.

Prawira Tani

Prawira Tani merupakan usaha yang bergerak di bidang pembibitan dan budidaya kakao yang berlokasi di Desa Giripurwo, Kabupaten Kulon Progo.

Prawira Tani

Dokumentasi Visual

Sekilas pandang tentang keindahan tanah Tompak.

Acara Jalan Jalan Pengenalan Lingkungan Paud Melati Mekar
Acara Jalan Jalan Pengenalan Lingkungan Paud Melati Mekar
Foto Bersama Siswa Paud Melati Mekar Di Watu Tompak
Foto Bersama Siswa Paud Melati Mekar Di Watu Tompak
Foto Bersama TIM KKN PPM UGM YO 011 Dengan Paud Melati Mekar
Foto Bersama TIM KKN PPM UGM YO 011 Dengan Paud Melati Mekar
Lomba Tumpeng 17 Agustus
Lomba Tumpeng 17 Agustus
Pelaksanaan Lomba Tumpeng 17 Agustus
Pelaksanaan Lomba Tumpeng 17 Agustus