01Kakao
Ditanam di tanah Menoreh yang subur, kakao Tompak menghasilkan biji cokelat berkualitas dan cita rasa yang khas.
Tompak, di mana nilai kehidupan bertemu dalam satu jejak, menjadikan Dusun ini sebagai titik bertemunya keimanan, alam, dan sejarah yang akan selalu hidup setiap waktu.
Seperti Watu Tompak yang tidak bisa dijauhkan dari tempatnya, ada tempat-tempat yang tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Tempat yang terus hidup dalam ingatan, sejarah, dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tompak adalah salah satunya, sebuah dusun yang mengajarkan bahwa kembali bukan hanya pulang, melainkan juga mengenang asal, menjaga warisan, dan mengembangkan potensi yang ada. Di sinilah nilai kehidupan bertemu dalam satu jejak, menjadikan Tompak sebagai titik temu keimanan, alam, dan sejarah yang akan selalu hidup setiap waktu.
Berada di sekitar Perbukitan Menoreh, Tompak berdiri di tanah yang subur, udara yang sejuk, dan dikelilingi kelestarian alam melimpah yang menjadi sumber penghidupan dan terus dijaga oleh masyarakatnya. Dari mata air yang menghidupi hingga hamparan perkebunan yang menguatkan perekonomian, alam telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kehidupan yang tumbuh berdampingan dengan alam inilah yang membentuk karakter masyarakat Tompak.
73.93 Ha
Luas Dusun
2 RW
Jumlah RW
5 RT
Jumlah RT
±90 Kartu Keluarga
Jumlah KK

Nama "Tompak" sendiri berakar dari kata "Tumpak" atau "Tumpang", yang menggambarkan dua bongkahan Watu Tompak yang saling bertumpuk. Setiap huruf dari "Tompak" juga memiliki maknanya tersendiri: T = Trengginas, O = Obah, M = Makaryo, P = Pakarti, A = Amrih, K = Kecukupan — yang secara garis besar bermakna semangat untuk terus bergerak, bekerja, dan berbuat baik hingga berkecukupan.
Seiring bertambahnya waktu, penduduk di sekitar Watu Tompak semakin bertambah, sehingga masyarakat pun mengangkat salah satu penduduk menjadi pemimpin pertama mereka, yaitu Ki Joyodiharjo. Wilayah ini kemudian dikenal sebagai Dusun Tumpak. Nama tersebut baru resmi dipatenkan menjadi "Tompak" pada tahun 1992 oleh Pak Besut, seorang tokoh Budayawan Jogja, setelah desa ini memenangkan lomba tingkat provinsi pada saat itu. Momen inilah yang menandai pergantian nama secara resmi dari Dusun Tumpak menjadi Tompak, seperti yang dikenal hingga sekarang.
Tiga komoditas utama yang tumbuh subur di tanah Tompak:
01Ditanam di tanah Menoreh yang subur, kakao Tompak menghasilkan biji cokelat berkualitas dan cita rasa yang khas.
02Kekayaan alam berupa lengkuas, jahe, kencur, temulawak, dan kunyit ini tumbuh melimpah di tanah Tompak dan lebih akrab disebut sebagai empon-empon oleh masyarakatnya.
03Tumbuh subur di kebun-kebun warga, pisang menjadi hasil kebun andalan yang dimanfaatkan sebagai pangan sekaligus sumber penghidupan para warga.
Prawira Tani merupakan usaha yang bergerak di bidang pembibitan dan budidaya kakao yang berlokasi di Desa Giripurwo, Kabupaten Kulon Progo.

Cerita, refleksi, dan catatan perjalanan dari tanah Tompak.
Cerita4 Agustus 2026
Mengolah rimpang lengkuas menjadi biopestisida sebagai alternatif pengendalian hama Helopeltis pada tanaman kakao sekaligus memanfaatkan potensi lokal untuk mendukung pertanian berkelanjutan di Dusun Tompak.
Cerita9 Juli 2026
Pemanfaatan pisang lokal menjadi SIKOPONG, olahan pisang unik yang dikreasikan bersama ibu-ibu PKK Dusun Tompak sebagai upaya meningkatkan nilai jual komoditas lokal dan membuka peluang usaha rumahan.
Cerita15 Agustus 2024
Dari kulit ari kakao menjadi secangkir teh beraroma cokelat! Tim KKN Kicauan Menoreh memperkenalkan KakaoTea kepada warga RW 35 sebagai inovasi olahan sekaligus peluang usaha dari hasil samping produksi kakao.
Sekilas pandang tentang keindahan tanah Tompak.




